Tak Punya Biaya, Balita Penderita Tumor Ganas di Pandeglang Hanya Bisa Pasrah

  • Whatsapp
Risma, balita asal Pandeglang penderita Tumor Ganas

Barometer Banten – 17 bulan sudah usia Risma saat ini. Balita ini terbaring lemah tak berdaya karena mengidap penyakit tumor ganas ditubuhnya.

Anak dari pasangan Ade Satir dan Nurhaenah warga Kampung Telasari, Desa Cigeulis, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang ini, menderita tumor ganas sejak lahir. Kondosi ekonomi keluarga yang pas-pasan, memaksa orang tuanya pasrah menunggu keajaiban.

Nurhaenah ibu sang bayi mengatakan, tidak ada firasat atau pertanda apapun selama kehamilan. Sakit yang diderita buah hatinya, kata Nurhaenah, itu bermula dari munculnya tanda lahir berbentuk bintik merah diperut bagian samping kanan, namun bintik merah itu semakin membesar seiring bertambahnya usia sang anak.

“Selama hamil biasa aja layaknya orang hamil normal dan Waktu baru lahir dikira tanda lahir biasa ternyata tanda itu semakin membesar dan melebar dan anak saya sering demam dan merasa kesakitan,” ujarnya, Selasa (04/05/21)

Dirinya mengaku bersama suaminya sempat membawa anaknya ke seorang dokter, saat itu dokter mengatakan bahwa anaknya menderita tumor ganas dan harus dioperasi, dokter juga menyarankan agar dirinya membuat kartu BPJS, karena untuk operasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

“Pernah dibawa berobat ke dokter Rijal, waktu itu hanya disuruh bikin BPJS karena katanya untuk biaya operasi butuh uang banyak jangan sampai menghabiskan rumah dan sawah, boro boro rumah sama sawah saya tinggal aja masih numpang,” ucapnya.

Nurhaenah menambahkan, kondisi anaknya semakin parah saat usianya masuk usia 1 tahun. Dari bintik merah, muncul benjolan, kini kondisi anaknya itu semakin memburuk dan terkulai lemah ditempat tidur.

Lanjut Nurahenah, karena keterbatasan ekonomi, dirinya hanya bisa pasrah pada keadaan dan kondisi sang anak, dengan tetap berharap akan ada bantuan yang datang.

“Suami saya kan pekerjaannya serabutan jangankan untuk biaya operasi anak untuk makan sehari-hari aja kami harus kerja keras,” katanya

Nurhaenah berharap, adanya uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan, untuk biaya pengobatan anak ketiganya tersebut. (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *